Skip to content

Tag Archives: Puisi

Aku

30-Aug-08

aku bukanlah besi
atau api
seperti pejuang di sabilillah itu
aku hanyalah daun
yang lebih sering gugur
yang ingin menampung embun
seperti dirimu
aku hanyalah seonggok kayu
yang lebih sering lapuk
yang ingin menjadi
tempatmu bernaung
aku adalah setapak
yang terinjak-injak
yang ingin menuntun kakimu
ke tujuan hidupmu
tapi setapak itu tak abadi
kadang ia rusak
dimakan alam dan musim
itu sepuisi tentangku
yang bercita menjadi besi pedang
dan api perjuangan
gunung ketegaran
dan lautan sabar
tapi aku [...]

Cemburu di Tahun Baru

30-Dec-07

Setiap tahun berganti
Ingin merayakannya dengan kembang api
Memantiknya di malam hari
Dan melihatnya menyala seperti bunga
Tapi selalu kuurungkan niatku
Teringat akan ia yang akan cemburu
Ya … cemburu …
Pada mereka yang menunggu berjam-jam
Hanya untuk satu detik pergantian
Pada mereka yang semalam tak terpejam
Hanya untuk sekilas perubahan
Dan mendapati esok harinya … sama
Di tahun baru yang kesekian
Aku ingin biasa saja
Seperti pergantian detik-detik [...]

Seharusnya Ada Jalan

05-Aug-06

Feb 2002
mendamai hati dalam suasana sore
di beku musim dingin, Palestina
arak-arak anak di atas bumi berbatu
batu pecahan kediaman masa lalu
hati masih saja bersyukur
karena …
kemarahan masih membara membaja

wanita tertegun terbingkai duka
gendongannya pewaris generasi
pernikahan menanam benih jiwa
sewaktu peluru menikam raga
darah bukan karena merah,
ia menjadi warna di baju para pemuda
tapi karena ..
mereka harus terus bergerak
di antara lempeng besi kedzaliman
yang [...]

Di Palestina

01-Aug-06

11 Mar 2002
pada senja yang bertanya
ada rasa hati bersalah
saat malamnya gelisah
doa-doa dilantunkan mata basah
di fajar ia melihat langit
birunya membunuh malam, pahit
baginya hari ini ia harus berlari
duhai manusia2
yang lahir di intifadah Palestina
begitu indah tarian kakimu
diatas kerikil-kerikil bumi
tanpa alas kaki
sungguh cantik gerak tanganmu
melempar besi baja bermeriam
dengan sekedar batu
tetapi …
kemarin berita membawa kisah
kematianmu menyusung 60 jiwa
entah mengapa masih [...]

Harum Tanah Basah

04-Oct-04

harum tanah basah adalah yang kurindu
selalu merekah senyumku menghirupnya
seperti riang bocah
yang tak mengerti arti hujan
sampai dimana dirimu saat ini ?
dulu adalah,
romantisme kaca jendela yang membulir air
indah yang hangat di rumah ayah
waktu yang lalu dalam naungan ibu
tapi di kota ini,
gelisah melimpah di bumi hati
satu satu, aku ingin menatanya
hingga tak tertampak ragu
dihadapan cintaku
rindu aku menghirup tanah basah
seperti [...]

Bekas Api Unggun

15-Jul-04

Tulisan ini saya buat dulu untuk milist kajian jurusan, setelah rihlah semalam di bromo bersama beberapa beberapa ikhwah, tanpa tenda, dan cukup beratap langit.
Tetaplah menatap langit malam ^_^, Hidup akan sangat panjang dan melelahkan, … mungkin menatap langit adalah refleksi kekerdilan kita dihadapan Allah Rabb Izzati … dan itu seharusnya membuat kita lebih kuat dan [...]