Skip to content

Tag Archives: Perjalanan

Pulkam : Kehidupan Aoi Sora

08-Oct-08

Di dekat Sidareja, kampungku yang pertama (tepatnya kampung kelahiran istri). Tak banyak berubah, meski toko semakin banyak menggairahkan perekonomian, motor semakin menyebalkan karena raungannya yang digeber-geber mengganggu tidur anakku, mercon Idul Fitri masih saja meledak-ledak di langit malam syawal pertama mengalahkan dengung takbir. Lagu Ungu diulang-ulang karena menjadi hits Idul Fitri kali ini, seperti soundtrack [...]

Pulkam : Keberangkatan Penuh Sesak

05-Oct-08

Pulang kampung menjadi rutinitas negeri ini, bagi mereka yang memiliki kampung tentunya. Bagi yang tidak, mungkin bisa menghibur diri dengan kota-nya yang menjadi lebih sepi dan tenang. Tahun ini ada tiga kampung yang harus kupulangi.
Berangkat di Jumat sore yang menyesakkan. Sesak karena jalan menjadi begitu sempit dengan sebanyak itu manusia-manusia menuju tempat kerinduan menggunakan berbagai [...]

Mengapa ke Berlin

28-Nov-07

Aneh memang ketika tiba-tiba diberi kesempatan Allah untuk merasakan dunia di luar Indonesia. Berlin saat Oktober, ketika musim gugur berjalan pelan menuju salju. Singkat kata aku bisa sampai disana.
Dulu kupikir - untuk diriku - harus menjadi mahasiswa luar negeri agar bisa ke luar negeri. Seperti mbak Arida yang bertahun-tahun sekolah di Jepang. Seperti cerita tentang [...]

Harum Tanah Basah

04-Oct-04

harum tanah basah adalah yang kurindu
selalu merekah senyumku menghirupnya
seperti riang bocah
yang tak mengerti arti hujan
sampai dimana dirimu saat ini ?
dulu adalah,
romantisme kaca jendela yang membulir air
indah yang hangat di rumah ayah
waktu yang lalu dalam naungan ibu
tapi di kota ini,
gelisah melimpah di bumi hati
satu satu, aku ingin menatanya
hingga tak tertampak ragu
dihadapan cintaku
rindu aku menghirup tanah basah
seperti [...]

Setapak Hati

04-Aug-04

Setapak hati ane yang dulu, ketika pertama jatuh cinta sama Islam. Sekarang lagi mencari setapak itu lagi. Entah dimana …

Dalam setapak rumput yang terinjak, kurasakan kesegaran angin pagi. Kabut itu begitu akrab denganku, dinginnya kuselami. Desiran rumput kurasakan membelai hatiku, bahkan sahabatku yang belum pernah kujumpa -sang musim gugur- terasa datang menjengukku di negeri [...]