Skip to content

Masa Lalu, Batas Langit, Bumi dan Kematian

28-Nov-07

Astronomi membuatku berpikir betapa jauhnya diriku dengan batas langit. Sejak kecil, selalu mengamati dan mencoba untuk bisa lebih dekat, naik genteng, membuat peta bintang, melihat gerhana, membaca, mencari software dll. Walau sampai saat ini belum pernah menggunakan teleskop canggih dan melakukan perhitungan matematis ilmiah untuk mengamatinya, aku tetap sadar batas langit dibalik galaksi-galaksi itu terlalu jauh.

Dari perbatasan pikiran, mencoba melihat keluar, adakah yang lebih jauh dari batas langit ?

Sampai senin kemarin ketika halaqoh (liqo; pertemuan mingguan) dengan saudara-saudaraku, aku tertegun dengan tausiah yang mengutip dari hadist Rasulullah SAW. Tentang sesuatu yang terjauh … yaitu masa lalu.

Betapa hebat kebenaran, meskipun umurnya lebih dari 1400 tahun, ia tetap menjadi kebenaran.

Ahli matematika dan fisika berteori bahwa kembali ke masa lalu dimungkinkan, bisa menggunakan lubang cacing atau melewati lubang hitam atau bergerak menyamai kecepatan cahaya. Tetapi kemungkinannya kecil sekali, hampir mustahil. Seperti juga mendekati batas langit, terlalu jauh.

Jika suka mengenang masa lalu dan melihat langit - karena sesuatu yang jauh itu membuat rindu -
jangan lupakan kematian dan bumi tempat berinjak - karena yang terdekat, sering membuat kita lalai.

Mengapa ke Berlin

28-Nov-07

Aneh memang ketika tiba-tiba diberi kesempatan Allah untuk merasakan dunia di luar Indonesia. Berlin saat Oktober, ketika musim gugur berjalan pelan menuju salju. Singkat kata aku bisa sampai disana.

Dulu kupikir - untuk diriku - harus menjadi mahasiswa luar negeri agar bisa ke luar negeri. Seperti mbak Arida yang bertahun-tahun sekolah di Jepang. Seperti cerita tentang mahasiswa-mahasiswa beasiswa gratis di Jerman. Seperti teman-teman yang menjadi dosen, bisa sekolah ke Australia, bisa ke Taiwan. Sekarang sahabatku Kurnix sudah di Malaysia untuk meneruskan studi.

Musim gugur di Berlin, dinginnya kering tapi penuh semangat, sebenarnya karena baru pertama kali menginjakkan kaki diluar pulau Jawa. Berita tentang betapa rapinya tata kota di luar negeri tentu sudah sering didengar. Juga tentang kedisiplanan orang-orangnya. Yang menjadi perhatianku adalah, mengapa Allah memberiku kesempatan menuju kota itu ?

Teringat Haikal, sobatku yang sangat ingin sekolah di Jerman. Semangatnya sempat menyulutku untuk ikut-ikutan bercita-cita juga sekolah di luar negeri. Sekarang dia sedang menyelesaikan S2 di UI. Subhanallah, ternyata kenginan sekolah-lah yang utama, dimanapun … bukan hanya karena Jerman atau Jepang.

Ia dunia yang berbeda, ketika daun-daun berserakan begitu indah, dan berjalan diatasnya seperti menemukan sahabat lama bukan itu yang membuat senang. Meski dinginnya membuat bibir pecah dan anginnya bisa menyentuh tulang, bukan itu yang membuat gelisah. Gedung-gedung tuanya yang antik dengan banyak sejarah tertulis ditemboknya, dengan cepat bisa menghabiskan memory card kameraku tak membuatku kawatir. Yang membuatku berpikir adalah, mengapa wong ndeso buta bahasa inggris ini bisa tersasar di Berlin ?

Hanya baka (baca: bodoh) yang jauh-jauh ke Berlin tetapi tidak tahu mengapa bisa ke Berlin. Yang pasti, sadarlah aku bahwa Allah telah mengabulkan keinginanku untuk bisa bertemu dengan musim gugur, dengan cara-Nya yang unik dan tiba-tiba. Hanya itu kayaknya …

Kata-kata Yang Tak Mati

09-Aug-06

Yahudi adalah bangsa pembunuh. Kisah kelam mereka tidak akan pernah sirna dari lembaran hitam sejarah manusia. Kita mengetahui bahwasanya bangsa Yahudi-lah yang lancang membunuh para Nabi dan Rasul utusan Allah.

“Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan), disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.” (An-Nisaa’ : 155)

Dalam masa kontemporer saat ini, fakta sifat psikopat maniak untuk membunuh dari diri mereka begitu nyata. Sejarah Palestina cukup untuk menjelaskan itu semua, dan berita-berita penyerangan mereka ke Libanon saat ini memperkuat fakta tersebut.

Yahudi ternyata bukan hanya pembunuh para pejuang dan penjagal nyawa ibu dan bocah, mereka juga pembunuh perjanjian, pembunuh seruan, pembunuh kata-kata. Berapa banyak seruan nurani dari masyarakat dunia diteriakkan di lubang telinga mereka, tapi yahudi membunuh seruan itu dengan melancarkan bom ke jantung rakyat yang tak bersuara. Berapa juta kata-kata yang disemprotkan dari mulut pemimpin-pemimpin dunia ke muka mereka, tapi yahudi membunuh kata-kata itu dengan membumihanguskan pemukiman-pemukiman pengungsi tanpa alasan.

Entah apa yang ada di benak kita, yang menulis setiap hari untuk Palestina. Tapi tulisan kita itu mati dibunuh yahudi tanpa jawaban. Berita-berita korban peperangan yang menggugah nurani terbit setiap hari, tapi berita-berita itu mati dibunuh yahudi dengan berita pembantaian berikutnya. Berjuta cara sudah kita lakukan, untuk membuat yahudi itu mendengar dan merasakan. Tapi mereka membunuhnya sebelum sampai ke telinga dan hati mereka.

Adakah sobat, kata-kata yang kebal dari peluru-peluru laknat yahudi ? Kata-kata yang anti rudal-rudal jahat yahudi ? Kata-kata yang bisa menembus benteng tuli yahudi ?

“Ya Allah, yang menurunkan Kitab Suci, yang menghisab perbuatan manusia dengan cepat. Ya Allah, cerai beraikanlah golongan musuh dan goncangkanlah mereka” (HR. Muslim 3/1362)

“Ya Allah, Engkau adalah lenganku. Engkau adalah pembelaku. Dengan pertolonganMu aku berputar-putar, dengan pertolonganMu aku menyergap, dan dengan pertolonganMu aku berperang” (HR. Abu Dawud 3/42 dan Tirmidzi 5/572)

Doa, karena doa adalah kata-kata yang tak akan pernah terbunuh.

Allahumanshur ikhwana mujahidin fi Filastin, Allahumanshur ikhwana mujahidin fii kulli makaan

palestina islam

Dejavu

07-Aug-06

Dunia seakan-akan terlambat menyadari betapa biadabnya Israel. Rasanya baru akhir-akhir ini saja dunia memikirkannya dengan hangat, meski saya yakin, kehangatan pembicaraan itu tidak akan lama. Setahun dua tahun, dunia akan lupa. Kejadian-kejadian ini seperti dejavu, berulang dan berulang lagi. Israel membantai - dunia mengecam - dunia melupakan, AS memborbardir - dunia mengutuk - dunia melupakan, begitu seterusnya.

Yang terulang juga adalah, saat dunia memperhatikan Lebanon karena gempuran-gempuran Israel mereka seakan lupa pada Palestina. Seperti juga dulu ketika Amerika menggempur Iraq, dunia lupa pada Palestina. Padahal penderitaan Palestina tak kalah hebatnya. Bahkan hampir setiap hari penduduk Palestina terbunuh oleh israel sejak meletusnya intifadah II. Dunia hanya tertarik pada pembantaian-pembataian besar. Dunia hanya mau memperhatikan pada jumlah kematian yang besar.

Itulah harga nyawa muslim dimata dunia. Sehari satu mati selama 5 tahun tidak begitu menarik daripada 50 mati dalam sehari. Itulah gambaran nyawa muslim dimata dunia. Butuh angka kematian yang fenomenal agar nyawa-nyawa saudara kita dapat menghiasai headline-headline media, hingga dunia membaca.

Juga kita ? Akankah kita berkoar-koar hanya ketika angka kematian dalam sehari telah mencapai 2 digit ? Akankah kita menyuarakan kemerdekaan mereka hanya ketika kerusakan sudah seperti gempa bumi ? Akankah kita mendoakan mereka hanya ketika puluhan nyawa mati dalam sehari ?

Setelah itu dejavu, kita lupa hanya karena angka kematian menjadi lebih kecil. Seperti yang selalu dunia lakukan.

Seharusnya Ada Jalan

05-Aug-06

Feb 2002

mendamai hati dalam suasana sore
di beku musim dingin, Palestina
arak-arak anak di atas bumi berbatu
batu pecahan kediaman masa lalu
hati masih saja bersyukur
karena …
kemarahan masih membara membaja

wanita tertegun terbingkai duka
gendongannya pewaris generasi
pernikahan menanam benih jiwa
sewaktu peluru menikam raga
darah bukan karena merah,
ia menjadi warna di baju para pemuda
tapi karena ..
mereka harus terus bergerak
di antara lempeng besi kedzaliman
yang selalu saja memicu peluru
tanpa alasan

duduk memandang dari jauh negeri
setelah saat ini …
hanya matahari yang bisa menghamba
menyinari masa tua Al-Quds
hujan yang membasahkan pelataran
ketika semi, menguncupkan seribu duka
angin menghibur membersihkan debunya
seharusnya ada jalan !
antara Tepi Barat dan Gaza, Rafah serta Ramallah

Di Palestina

01-Aug-06

11 Mar 2002

pada senja yang bertanya
ada rasa hati bersalah
saat malamnya gelisah
doa-doa dilantunkan mata basah
di fajar ia melihat langit
birunya membunuh malam, pahit
baginya hari ini ia harus berlari
duhai manusia2
yang lahir di intifadah Palestina
begitu indah tarian kakimu
diatas kerikil-kerikil bumi
tanpa alas kaki
sungguh cantik gerak tanganmu
melempar besi baja bermeriam
dengan sekedar batu

tetapi …
kemarin berita membawa kisah
kematianmu menyusung 60 jiwa
entah mengapa masih saja ada sedih
meski kutahu hidupmu makin sejati

afwan ya ikhwan
disini kami hanya bisa memicu doa
bukan batu atau peluru
dan bunga yang kau tanam
harus kau suburkan dengan darah sucimu

oh … negeri anbiya

syahdunya suara pengeras masjid disana
meneriakkan nama para syahid syahidah
hinga seluruh pelosok negeri
menghirup harum kasturi

Aku Sang Syuhada

27-Jul-06

13 Mar 2002

apa lagi wahai negeri Islam
yang harus kukorbankan utk kemerdekaan
jasadku ? jasadku telah meleburi tanahmu
apakah darahku ? bukankah ia telah menyiramimu
atau nyawaku ? nyawaku telah menguap di keharumanmu
jangan kau tanya air mataku !
berjuta kali ia telah merobek wajahku

kau begitu kucintai lillah
hingga mungkin bumimu adalah yg termerah
dan negeri mana yg mengalahkan kesuburanmu
sedangkan tiap masa
aku gugur menjadi rabuknya

tak ada yg kusesali
selamanya memang cintaku menjadi hakmu
hanya saja …
adakah lagi yg akan menjadi aku ?
akuilah kau gelisah
kau bisa melihat
musuh sepertinya menang

Puisi di atas kutulis dua tahun setelah intifadah II. Saat itu terlihat sekali betapa hancurnya Palestina. Semuanya rata menjadi tanah. Hanya tersisa bocah-bocah yang minumnya dari genangan air, ibu-ibu yang harus bergerilya mencari roti, pemuda-pemuda yang harinya melempar baja dengan batu, kemudian sorenya menemui diri mereka telah mati. Saat itu sepertinya semua sia-sia, ketika itu sepertinya semua pejuang telah menjadi syuhada. Tidak tersisa.

Tetapi kini, perjuangan itu bergolak kembali. Misi-misi kembali disusun, operasi-operasi kembali diamalkan, dari Rafah hingga Gaza, dari Tepi Barat hingga Lebanon. Roket dan batu di sana tak beda, keduanya dilontarkan dengan ruh pembebasan. Hidup dan mati di sana tak beda, keduanya dijalani dengan tekad lillah.

Mendoan

24-Jul-06

Apa yang bisa kita lakukan di kala senja hari, di depan matahari dan awan, di depan hamparan sawah menguning, di jembatan dam yang Alhamdulillah masih berair, saat bertiup angin kering bulan Juli, bersama musim semi ? Pilihanku adalah makan tempe mendoan plus cabe rawit muda. Apa istimewanya ? Tidak ada kecuali kesederhanannya yang tidak ditemukan pada rasa-rasa di makanan kota. Mendoan hanyalah kedelai-kedelai yang menyusun tempe dengan tipis saja, didiamkan dalam daun pisang. Dibumbui dan dikasih tepung, setelah itu digoreng tetapi tidak sampai kering (1/2 matang). Disajikan ketika hangat plus cabe rawit pedas. Uaaaahhh.

Rasanya adalah tempe, sama kok, hanya saja lebih kenyal disebabkan tepungnya. Ternyata kalau di cek di wikipedia, mendo artinya lembek. Baru tahu juga nih :). Asalnya dari Banyumas, dan tersebar disekitar kota itu seperti Purwokerto, Cilacap dan sebagian besar kota di Jawa Tengah.

Hmmm. Dalam makanan tradisional kita mendapatkan rasa. Rasa yang membawa diri kita kembali ke asal. Seperti perasaan yang membawa kita selalu ingin pulang di setiap Syawal. Rasa sadar bahwa kita dulu hanyalah seorang yang sederhana, tidak punya apa-apa kecuali uang jajan dari Bapak, tidak muluk-muluk meski kadang merengek pada Ibu. Rasa agar kita tidak sombong, karena secara kebetulan jadi orang kota yang bisa merasakan spagheti, mcD atau steak. Rasa agar tidak lupa bahwa dulu kita hanyalah bocah ingusan yang suka jajan jalanan, es tontong, krupuk upil, pentol colek, lupis dan sebagainya.

Kembali ke diri dengan sederhana, salah satunya lewat mendoan plus cabe rawit secukupnya. Uaaaahhh … pedesnya menantang.

Mengejar Gapuraning Rahayu

21-Jul-06

Sore ini harus lagi, berkejaran dengan debu menaiki ojek, berdesakan berbau manusia di lalu lalang kehidupan. Menunggu bis reyot menuju terminal keberangkatan. Duduk setengah mengantuk, menahan lelah melupakan haus lapar, kecuali ada gorengan dari asongan, atau sekedar air berkemasan.

Sore ini sebentar lagi. Menahan sabar pada sumpeknya macet di tol terpadat di negeri ini, apalagi kala akhir minggu, saat orang-orang memikirkan keluarganya dengan satu kata rindu. Seperti juga aku. Mengejar Gapuraning Rahayu sebelum ia tertutup, karena dialah yang akan mengantarkanku ke selatan Jawa. Ke sebuah desa mungil bernama Wringin Harjo di dekat Sidareja Cinta, Kab. Cilacap. Satu-satunya desa di Indonesia yang memiliki musim semi, bagiku.

Sore ini mengejar lagi Gapuraning Rahayu. Bis selatan yang selalu membawa diriku memenuhi rindu.

Indonesia Digondol Maling

20-Jul-06

Kemarin membaca milist SITC yang dikirim oleh saudara ane Ary Shidiq. Emailnya berjudul ‘rusak … rusak …’. Ternyata isinya cukup singkat

Indonesia .. Indonesia .. kapan le .. warasmu?
http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/ tahun/2006/bulan/07/tgl/18/ time/210444/idnews/638538/idkanal/10

Sempat bertanya-tanya, ada apa sih kok sampai heboh banget. Setelah di klik. Apa !? Buaa ha ha ha ha. Entah ane ingin marah tapi malah tertawa. Beritanya berjudul ‘Alat Deteksi Tsunami di Pantai Kuta Digondol Maling’. Mungkin yang membuat lucu adalah kata-kata ‘digondol’. Memang Indonesia mbuat gemes saja. Sudah jatuh ditimpa tangga, masih dicuri juga tangganya. Parah …. parah puol (puol bisa berarti full, penuh, mentok, notok).

Malamnya ane membaca koran IndoPos (edisi Jakarta untuk JawaPos). Ternyata ada selang waktu 30 s/d 45 menit antara gempa (yang kabarnya tidak dirasakan di pesisir pantai selatan) dengan terjadinya tsunami. Dan ternyata lagi, pihak Badan Meteorologi Jepang telah memberi peringatan dalam selang waktu itu kepada Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Kusmayanto Kadiman bahwa dimungkinkan terjadi tsunami. Tapi sampai tsunami terjadi pemerintah tidak melakukan apa-apa. Ketika ditanya mengapa mengabaikan peringatan tersebut jawabnya adalah ‘Kalau tidak terjadi gimana ?’.

Ini dia maling penggondol informasi, informasi yang mungkin berguna dalam menyelamatkan ratusan nyawa. Saya yakin sekali, rakyat lebih memilih repot mengungsi daripada dirinya atau keluarganya mati. Pemerintah tidak seharusnya berjudi dalam masalah ini.

Dan terakhir, jujur saja, di sepanjang pantai selatan itu aqidah-lah yang paling banyak digondol maling-maling agama yang tidak bertanggung jawab. Siapa yang salah ? Haruskah kita menyalahkan Nyai Loro Kidul dalam penggondolan kali ini ?

Suatu saat, mungkin Indonesia yang digondol maling.