Di dekat Sidareja, kampungku yang pertama (tepatnya kampung kelahiran istri). Tak banyak berubah, meski toko semakin banyak menggairahkan perekonomian, motor semakin menyebalkan karena raungannya yang digeber-geber mengganggu tidur anakku, mercon Idul Fitri masih saja meledak-ledak di langit malam syawal pertama mengalahkan dengung takbir. Lagu Ungu diulang-ulang karena menjadi hits Idul Fitri kali ini, seperti soundtrack film tentang sebuah desa yang bertaubat karena banyak dosa …
Dan demi nafas
Yang telah kau hembuskan
Dalam kehidupan ku
Ku berjanji
Ku akan menjadi yang terbaik
Jalankan segala perintah Mu
Menjauh di segala larangan Mu
Adalah sebaris doa ku untuk Mu
[by. Ungu]
Seperti tahun-tahun yang selalu berulang, foto-foto yang kuambil hampir sama seperti klise kehidupan desa yang monoton. Kali ini dengan Muhandis kecilku. Kami susuri rel sampai hampir ketabrak kereta api karena narsis mau foto diri, menyeberang jembatan putus-putus, menelapak di tanah sawah yang lengket memberatkan sandal jepit. Semua foto yang kuambil bermodal kan nekat, gak punya malu dan pura-pura gak kenal (emang gak kenal :p). Hasilnya tukang jahit, tukang potong rambut, tukang jual bunga, tukang jual kayu bakar, tukang burung, penjual monyet, penjual ayam, pedagang pisang, penjual pangan burung, tukang becak, mbok-mbok ke pasar dan kehidupan sederhana lainnya.
Aoi Sora … sutekii. Bagaimana ya kehidupan dibawah langit biru Tuscany ? Kurasa tak sesederhana di sini, mungkin serumit mimpi dan seruwet angan-angan yang tak berujung. Ah, ingin kuceritakan semuanya. Tentang kehidupan yang nyata ini, pada hatiku, pada diriku … bahwa itu lebih baik.
Post a Comment