Pulang kampung menjadi rutinitas negeri ini, bagi mereka yang memiliki kampung tentunya. Bagi yang tidak, mungkin bisa menghibur diri dengan kota-nya yang menjadi lebih sepi dan tenang. Tahun ini ada tiga kampung yang harus kupulangi.
Berangkat di Jumat sore yang menyesakkan. Sesak karena jalan menjadi begitu sempit dengan sebanyak itu manusia-manusia menuju tempat kerinduan menggunakan berbagai macam jenis angkutan. Dan mengapa kerinduan harus dikumpulkan di satu waktu ? Tak tahu. Sesak karena akhir Ramadhan ini tak kulalui dengan lebih baik. Sesak karena, mulai hari itu aku sepertinya akan kehilangan seorang teman. Sesak karena harus berebut kursi perjalanan, ambil ancang, sikut sana, tendang sini, bergelantungan di pintu bis.
Sesesak apapun aku harus melaluinya. Di hati yang sesak, di tempat yang sesak, di pikiran yang sesak, di sudut-sudut mata yang sesak oleh air mata kesedihan, di ruang dadamu yang sesak oleh kekesalan yang tak terjawab … ada rindu yang harus kau jemput. Ada cinta yang menunggumu. Mungkin akan menemukan senyum di salah satu tujuanmu.
Post a Comment