Skip to content

Hujan itu Sederhana, Hadapi dengan Sederhana

Hujan … seharusnya tidak perlu dicaci, seperti yang sering kita dengar … “sial, hujan nih”. Juga tidak perlu disesali, seperti yang sering digumankan … “aduh, kalau saja tidak hujan”. Dan seharusnya tidak perlu kita pertanyakan, seperti yang sering terngiang di hati … “mengapa hujan disaat begini ?”.

Ketika hujan datang, kita tidak perlu memikirkan mengapa hujan terbentuk, apa akibatnya bagi kita, flu kah, kedinginan kah, mengapa hujan lama sekali, disebabkan hujan banjir dimana-mana atau gara-gara hujan janji batal. Bukan itu yang harus kita pikirkan saat tetes pertama menyentuh kulit ari. Seharusnya yang pertama terbersit di syaraf pertama otak kita adalah … “hujan ini kehendak Allah”, maka berikutnya akan menjadi indah … karena bersyukur adalah jawabnya, bertafakur adalah nikmatnya, senyum menjadi berkahnya.

Kita sering menjadikan bencana besar (banjir, tsunami, gempa, perang, penyakit dsb) sebagai saat terakhir untuk bersyukur (karena masih bisa hidup kali yeee), tapi menjadikan hujan mungil yang lucu dan indah ini sebagai tempat sampah umpatan dan penyesalan.

Hadapi saja hujan dengan sederhana, seperti saat kita kecil imut dulu. Tersenyum penuh berkah. Alhamdulillah.

Post a Comment

Your email is never published nor shared. Required fields are marked *
*
*