Skip to content

Monthly Archives: September 2004

Aku Mencintaimu

28-Sep-04

seperti hangat matahari mencintai bumiseperti hujan menumbuhkan musim semiseperti setapak yang mengantarkan kakiseperti …
ah ya …cintaku seperti yang initak mungkin terdefinisi
[untuk istriku di timur jawa] puisi musim semi cinta

Kami Bukan Orang Asing

23-Sep-04

jalan raya yang lebar menghirup udara yang panaskehidupan di al-Quds tampak seperti seorang penari tua,yang menginjak kerikil-kerikil umurnyadengan perih !
hari-hari berlalu seperti mimpi-mimpi kitadan hanya menyisakan potongan baju kita yang kumalyang lalu lebur dalam rintihan memilukan
betapa sulitnya menjabat tangan tanah tumpah darah kitatanpa membuat tanganmu yang dingin menjadi terbakaria berbisik sedih, sambil melahap kota itu [...]

Di Ujung Rindu

21-Sep-04

mentari temaram jinggamenoreh tanda di gradasi langitmembekas lukis di kaca jendelahati yang gelisah birudi ujung rinduku hai sahabatkita akan segera bertemu
[KA Argo Anggrek, 18 Sep 2004 05:00jalur pantai utara Jakarta Surabaya] puisi cinta sahabat

Berharap Satu Tahun Cahaya Lebih Dekat

17-Sep-04

Lembang memang indah. Mengingatkanku pada kota Malang tempat aku tumbuh bersama ibu. Tapi ada satu koneksi hati tentang Lembang ini, langit akan terasa lebih dekat, karena disana ada sebuah tempat yang bernama Boscha. [ Aku membacanya Boska, tetapi dikritik seorang sahabat, "bukan boska tetapi, bosya". Entah mana yang benar ]
Dalam waktu yang sempit, pernah [...]

Musim Semiku

09-Sep-04

Kunaiki sepeda motor, menyusuri lekuk-lekuk jalan di sebuah desa. Desa ini amat asri, di hampar pohon pinus dihorisonnya, di warnai oleh sawah yang mengering bekas musim panen, hijau kecoklatan. Sungai dam serasa tidak bisa menahan beban dirinya untuk kembali mengairi lahan. Lambat mulai tergores gradasi di langit jauh.
Sekilas dari sudut mataku, terlihat kerudung yang gelisah [...]

Bagaimana kita bisa ?

08-Sep-04

Lalu bagaimana kita menjaga negeri kita, ketika ia telah menjadi kata asing yang diukir di atas lembaran bisu, dan membolehkan kita berlalu-lalang di atas puing-puing hati yang tercabik-cabik ?
Apa arti teriakan dan tuntutan kita untuk memperoleh sebuah negeri yang luka, selama kesedihan akan selalu merupakan titik akhir tempat kita berhenti ?
[Jehad Rajbi]

palestina

Sahabat Lintang Jati

02-Sep-04

Sahabat … istilah yang aneh, ia selalu hadir dalam benakku tanpa bisa kutolak. Dan ia tiba-tiba muncul dalam pernikahanku di selatan pulau ini, seorang sahabat dari kota jauh, ia sendiri. Maka hanya peluk yang bisa mewakili rasa hormatku.
Mataku resah membasah, kali ini karena cinta fillah yang tidak pernah terucapkan. Ia membawa sejuta salam dan doa [...]

Perjanjianku

02-Sep-04

Terisak sesak, mataku merembas basah. Entah mengapa harus menangis di depan penghulu, di samping dua saksi, di sebelah calon istriku, di depan keluarga dan teman-teman, di dalam masjid yang mungil itu.
Sahabat, aku bercerita … tidak ada apa-apa, aku hanya ingin merasa, Allah hadir dalam pernikahanku. Lega rasanya ketika qobul kuucapkan dengan lancar, sehingga sah-lah aku [...]